Gunung Sanggabuana · Juni 2025

Sanggabuana : Kami Tidak Siap, Tapi Kami Berangkat

Ditulis oleh Chandra, anggota Impeesa X-tream Adventure Team

Barangkali, sebagian perjalanan memang tidak pernah direncanakan. Ia hanya terjadi, seperti hujan yang datang tanpa permisi, atau seperti ajakan teman di grup WhatsApp yang berbunyi, “Gas nggak? Sanggabuana. Besok.”

Dan kami, entah karena berani atau bodoh, menjawab, “Gas.”

Pagi itu aku mendaki dengan sepatu running, yang biasanya hanya kenal aspal dan jogging track. Temanku lebih berani lagi, sendal jepit tipis, jenis yang biasa berjajar di teras mushola. Sendal yang diciptakan untuk jarak tempat wudhu ke sajadah, bukan untuk menuju puncak.

Di dalam tasku, ada sepatu safety. Tidak dipakai. Hanya dibawa. Sampai sekarang aku tidak tahu untuk apa. Mungkin untuk berjaga-jaga, kalau tiba-tiba sepatu running ini menyerah.

Tanjakan datang. Sepatu running-ku mulai licin, sendal tipis temanku mulai menyerah pada lumpur, dan tasku terasa makin berat oleh sepatu yang tak pernah keluar. Pendaki lain melihat kaki kami, lalu tersenyum dengan senyum yang sulit diartikan.

Kami tertawa. Ternyata rasa malu memang berat, tapi setelah ditertawakan, semuanya jadi ringan.

Tali sendal itu akhirnya putus. Kami ikat dengan rafia. Tidak indah, tapi cukup untuk bertahan sampai puncak.

Di atas sana, aku membuka tas dan menatap sepatu safety itu. Ia tetap bersih, tidak tersentuh tanah sedikit pun. Ikut naik, tapi tak pernah benar-benar ikut berjalan.

Mungkin kita juga sering begitu. Membawa banyak hal yang tidak kita butuhkan, hanya karena takut tidak siap.

Padahal kami memang tidak pernah benar-benar siap untuk apa pun.

Tapi kami selalu berangkat.

Cerita lainnya

← Kembali ke beranda